Skip to main content

Kembali, Hampir Genap Setelah Satu Tahun Lamanya

Terlalu banyak hal untuk diutarakan di penghujung tahun 2019 ini,

Begitu banyak cerita yang tak mampu untuk diceritakan satu persatu

Terlalu banyak rasa yang tak mampu untuk didefinisikan dengan gamblang

Begitu banyak sekali pelajaran yang di setiap episodenya.

 

Dan, semuanya tak cukup rasanya ku syukuri, dengan apa yang telah Allah berikan

Nikmat-Nya begitu luar biasa, tak pernah habis, tak pernah absent sama sekali bahkan setiap detikpun. Berbicara nikmat bukan hanya tentang nikmat yang pada umumnya dilabeli “nikmat yang baik” bentuk nikmat yang manapun terasa sangat nikmat tatkala kita selalu berusaha untuk selalu bersyukur, bersyukur dan terus bersyukur tanpa henti. 

 

Allah, terimakasih banyak atas segala rahmat dan rihdo-Mu, terimakasih untuk setiap apapun yang Engkau berikan kepadaku, rezeqi ; keluarga, pendidikan dan orang-orang yang luar biasa Engkau kirimkan di sekelilingku. Sebab, dari sanalah ku selalu berusaha keras belajar menjadi anak sholehah (Walaupun pada nyatanya sangat sulit, amat), belajar untuk terus mencari ilmu, belajar untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dan diri sendiri, belajar untuk selalu menyayangi orang-orang disekelilingku tanpa syarat. 

 

Keinginanku, Allah terus membimbingku menjadi hamba yang terus bermetamorfosis menjadi lebih baik dan baik lagi dengan cara yang Allah berikan kepadaku, selalu ada usaha untuk terus memperbaiki khualitas Ibadahku, selalu berusaha menajadi pribadi yang lebih baik lagi, selalu ada usaha untuk pintar mengambil hikmah di setiap apa-apa yang terjadi, selalu ada usaha untuk terus bersykur terhadap apapun yang diberikan oleh Allah. Karena tanpa bimbingan-Nya, apalah daya ku hanya seorang hamba yang selalu lalai akan perintah-Nya, selalu acuh tak acuh terhadap nikmat-Nya, selalu menganggap remeh akan peringatan-Nya dan selalu pura-pura tak tahu dan tak paham akan larangan-Nya. 

 

Tak tahu diri memang, selalu memohon bimbingan-Nya namun tak pernah melakukan semua perintah-Nya dengan baik. Begitulah si aku, selalu merengek, memohon kala dalam keadaan genting, tapi selalu absent dalam keadaan senang.

 

Harapanku, semoga setiap hati yang tak pernah putus memberi arti dalam diri selalu dalam rahmat-Mu, ridho-Mu, juga bimbingan-Mu. Mereka selalu mampu menghadapi berbagai macam kerikil dalam kehidupan dengan baik bahkan lebih baik lagi, selalu menemukan jalan untuk Bahagia, mampu mengambil hikmah dari setiap cobaan yang mereka dapatkan dan selalu pandai bersyukur atas semua nikmat yang Engkau berikan. 

 

Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.

 

Dengan penuh harapan dan cinta,

 

Ima

 

Comments

Popular posts from this blog

K E H I L A N G A N

Gue tau, ketika membaca judulnya saja  orang pasti sudah tau akan berbicara tentang apakah part bagian ini.  Kehilangan. Membaca katanya saja sudah mulai sedikit melibatkan hati yang sedikit terasa sesak bukan? jangan bohong. setidaknya jujurlah saja pada dirimu sendiri. Kita semua tahu sedari awal 2020  dibuat terkaget-kaget dengan setiap kepingan-kepingan kejadian. Menyesakkan sekali memang, buatku. Kadang, rasanya terasa sesak sekali. Jiwa terasa diguncang. Gue kira, potongan kepingan itu tidak terjadi di ranah kehidupan gue. Karena gue ngga bisa membayangkan, bahkan terbesit sedikitpun, tidak. Melihat saja mereka yang kehilangan cinta sejatinya, kehilangan super heronya, kehilangan kartini tercintanya, kehilangan beloved child or even children, kehilangan orang-orang terkasihnya,  terasa dihujam beberapa anak panah. Tidak melihat, hanya mendengar perginya beberapa jiwa saudara-saudara di sekeliling saja,  sempurna menciptakan tatapan kosong seketika. Mem...

Catatan Harapan (Waktu yang Mengobati itu, adalah Benar)

Catatan ini lahir dari percakapan ia dan seseorang yang begitu random. Percakapan yang seperti biasa diawali obrolan renyah dan menggemaskan dengan foto-fotonya. Sebetulnya,ia ingin menuliskan apa yang akan ingin ia sebenarnya ceritakan ini sedari sore tadi. Namun, ia terlanjur terlelap tidur. Kemudian, di akhir-akhir pembicaraan ia teringat kembali. Ia memberi tahu kalau sewaktu berbuka puasa terakhir di bulan ramadhan tahun ini, ia amat sedih. Sedih sekali karena ramadhan akan beranjak pergi, sedih teringat mereka-mereka yang sudah pergi terlebih dahulu pasti merasakan kesedihan yang amat dalam karena ramadhan tahun ini benar-benar akan beranjak tinggal menghitung menit, bukan, bahkan bukan menghitung lagi. Tapi, benar-benar sudah beranjak meninggalkan.   Mereka yang sudah lebih dulu pulang merasa senang sama seperti kita yang belum pulang   menikmati bulan suci ramadhan, bulan yang amat special, penuh rahmat,penuh keberkahan, bulan penuh ampunan, bulan penuh keringanan ...

Religion Issue? Pilpres 2019?

Hi, what's up world!    Alright, what’re going on with Islam religion and Politics in Indonesia nowadays?  Entah, gue ngga tau kenapa tema yang akan gue tulis kali ini begitu amat menarik buat gue bahas, walaupun iya gue tau mungkin ini akan cukup or even too sensitive.    Sepanjang gue amati beberapa bulan terakhir ini, mengapa akhir-akhir ini orang-orang islam begitu mudahnya melontarkan kata kafir terhadap non-muslim bahkan terhadap sesama orang islam juga? do they really know kapan, ketika bagaimana dan kepada siapa seharusnya  kata demikian disebutkan? terlebih gue ngga ngerti terhadap mereka yang baru aja kemaren belajar memahami agama islam lalu dengan gampangnya melontarkan kata itu terhadap non-islam juga  sesama orang islam. Are you sure for that? para Alim Ulama yang paham agama islamnya udah  luar biasa juga ngga mau sembarangan lho melontarkan kata itu, lah mereka yang masih awam dengan beraninya melontarkan kata demikian. P...